Pulau Kemaro Di Palembang Yang Melegenda dan Punya Daya Tarik Wisata

Di kota Palembang banyak terdapat tempat-tempat peninggalan sejarah bernilai tinggi yang masih terawat hingga saat ini. Beberapa tempat bersejarah tersebut seperti, Bukit Siguntang, Taman Kambang Iwak, benteng kuto besak, dan beberapa tempat bersejarah lainnya. Selain itu ada juga suatu tempat yang tak kalah istimewanya yaitu pulau kemaro yang melegenda karena terdapat suatu kisah pada zaman dahulu tentang sepasang kekasih yang berakhir tragis namun di sisi yang lain kisah ini penuh dengan kesetiaan suatu hubungan yang patut untuk di contoh. Kisah ini boleh dibilang seperti legenda Romeo dan Juietnya ala palembang. Adapun cerita itu tertulis di batu yang terletak di samping klenteng Hok Tjing Rio.

Sekilas Legenda Pulau Kemaro

Legenda pulau Kemaro ini bercerita tentang seorang pangeran yang datang dari China, namanya adalah Tan Bun An dengan tujuan berdagang ke Palembang. Setelah datang ke Palembang pangeran Tan Bun An meminta izin kepada Raja Sriwijaya untuk berdagang dan menetap di Palembang. Raja menyetujuinya dan memberikan izin kepada Tan Bun An untuk menetap, akan tetapi ada syaratnya yaitu sebagian dari keuntungan hasil berdagang harus di setor ke kerajaan. Tan Bun An setuju dengan persyaratan tersebut. Setelah waktu berlalu dan beberapa kali Tan Bun An ke istana kerajaan untuk menyetor kepada pihak kerajaan, disitulah terjadi pertemuan antara Pangeran Tan Bun An dengan seorang Gadis yang merupakan putri Raja yang bernama Siti Fatimah. Setelah melihat sang Putri yang memiliki paras cantik jelita, Pangeran Tan Bun An langsung jatuh cinta kepadanya. Begitu juga sebaliknya, sang Putri siti Fatimah pun merasakan hal serupa. Jadilah mereka berdua sepasang kekasih di mabuk asmara.

Mereka berdua berniat untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan, yang mana Tan Bun An serius untuk melamar sang putri kepada raja. Ternyata raja pun menyetujuinya, namun ada syaratnya pula yaitu pihak Tan Bun An harus memberikan sejenis hadiah berupa emas sebanyak 7 Guci. Setelah itu, Tan Bun An segera memberitahukan orang tuanya perihal tersebut. Orang tua Tan Bun An menyanggupi permintaan raja tersebut. Singkat cerita, Setelah kapal sampai di dermaga sungai musi, Tan Bun An tak sabar ingin melihat emas di Guci tersebut. Setelah melihatnya dia sangat kecewa dan kaget Karena isi nya hanya berupa sayur-sayuran asin yang telah busuk. Dengan spontan dan tanpa berpikir panjang lagi dia pun langsung membuang guci tersebut ke sungai. Namun guci yang terakhir pecah akibat terjatuh dan kagetlah dia ternyata di bagian dalamnya terdapat banyak emas batangan. Rupanya Orang tua tan bun an sengaja menutupinya dengan sayuran dan tidak memberitahukan perihal ini kepadanya dengan tujuan untuk menjaga keamanan emas tersebut dari perompak atau bajak laut. Tanpa pikir lagi Tan Bun An pun langsung terjun ke sungai untuk mengambil kembali guci yang telah dibuang nya tadi bersama seorang pengawalnya. Setelah beberapa lama ternyata keduanya tidak mucul lagi kepermukaan, oleh karena itu Siti Fatimah pun ikut menyusul terjun ke sungai dan akhirnya mereka bertiga pun tewas tenggelam.

Tujuan Wisata

Saat ini pulau kemaro telah menjadi tempat wisata yang populer di Palembang. Tempat yang bernuansa religius dan Budaya ini banyak dikunjungi mayoritas etnis China. Bahkan banyak juga yang datang dari luar negeri seperti dari singapura, Thailand, Taiwan, China, Malaysia, hingga ada yang datang dari Amerika. Mereka datang kebanyakan untuk berziarah dan sembahyang. Pulau kemaro ini akan makin ramai pada saat acara Cap Go Meh.

Adapun tempat yang menjadi Fokus wisatawan adalah sebuah klenteng Hok Tjing Rio atau biasa juga disebut dengan klenteng Kuan Im karena klenteng inilah makam sepasang kekasih berada yaitu makam Siti Fatimah dan Makam Tan Bun An.  Klenteng ini dibangun pada tahun 1962 dengan arsitektur yang unik khas Budaya China.

Selain Klenteng, di pulau kemaro ini juga terdapat sebuah pagoda yang berjumlah 9 lantai menjulang tinggi di central pulau kemaro. Pagoda yang menjadi ikon pulau kemaro ini dibangun pada Tahun 2006. Sejak dibangunnya pagoda ini menjadikan pulau kemaro ini tampak semakin cantik dan makin kental nuansa pecinannya. Tidak salah jika di pulau kemaro saat ini dijadikan sebagai pusat tempat peribadatan dan kebudayaan Umat Budha di Palembang. Hal ini ditunjang lagi dengan suasananya yang tenang dan nyaman, jauh dari kebisingan.

Uniknya lagi di pulau kemaro terdapat pohon yang bernama pohon cinta yang melambangkan cinta sejati antara dua budaya dan dua bangsa berbeda pada zaman dulu yaitu antara Siti Fatimah, seorang Putri kerajaan Sriwijaya dan Tan Bun An Pangeran dari China. Banyak pasangan yang berkunjung ke tempat ini untuk mengukirkan nama mereka berdua di pohon cinta tersebut.

Lokasi

Pulau kemaro berjarak sekitar 6 kilo meter dari jembatan Ampera. Aksesnya tidak sulit yaitu dari sungai Musi wisatawan bisa menggunakan perahu untuk menyeberang ke pulau ke maro.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *